Minggu, 13 Juli 2008

Daerah Wisata Yogyakarta

Yogyakarta selain terkenal sebagai kota pelajar atau kota pendidikan, juga terkenal dengan kota wisata, karena disini banyak terdapat daerah wisata, dari wisata alam hingga wisata budaya..

Kraton Ngayogyakarta Hadininggrat
Bangunan Kraton dengan arsitektur Jawa yang agung dan elegan terletak di pusat kota Yogyakarta. Bangunan ini didirikan oleh Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I, pada tahun 1775. Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat sekarang merupakan tempat tinggal Sri Sultan Hamengku Buwono X dan keluarganya.
Candi Prambanan
Candi Rara Jonggrang atau Lara Jonggrang yang terletak di Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini terletak di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.

Kawasan Kaliurang
Dengan berbasis pada wisata alam yang ada, yang terletak dikaki Gunung Merapi, Kaliurang dikembangkan sebagai tujuan wisata di akhir pekan.

Kotagede
Kotagede disebut sebagai Kota Ibukota Lama, karena dulu tempat ini merupakan ibukota Kerajaan Islam Mataram yang pertama. Tempat ini terkenal dengan kerajinan peraknya.

Pantai Parangtritis
Pantai Parangtritis yang tereletak di selatan Yogyakarta tepatnya di kabupaten Bantul memiliki banyak pesona, baik yang bersifat supranatural maupun yang berupa fenomena ilmiah.

   

Pantai Baron
Pantai Baron terletak di daerah Gunung Kidul terdapat muara sungai bawah tanah yang bisa digunakan untuk pemandian setelah bermain di laut.
Daerah wisata lainnya antara lain:
1. Goa Cerme
2. Goa Gajah
3. Goa Langse
4. Museum Ulen Sentalu
5. Prawirotaman
6. Sosrowijayan
7. Istana Air Tamansari
8. Monumen Jogja Kembali (Monjali)
9. Masjid Agung
10. Benteng Vredeburg-malioboro
11. Kebun Binatang Gembira Loka
12. Kawasan Pantai (pantai Krakal, Kukup, Sadong, Siung, Wediombo)
13. Candi Mendut
14. Candi Pawon
15. Candi Kalasan
16. Candi gebang
17. Makam Imogiri
18. Glagah Indah
19. Pura Wisata
20. Tugu pal Putih
21. Monumen Serangan Umum Satu Maret
  
Selengkapnya...

Senin, 07 Juli 2008

Insan yang Solat 1.000 Rakaat Sehari

Siang dan malam tiada yang dilakukan kecuali hanya rukuk dan sujud kepada Allah. Setiap sehari semalam ia solat tidak kurang dari 1,000 rakaat. Dirinya hanya untuk beribadah kepada Allah. Ia selalu berusaha agar dirinya setingkat dengan para malaikat yang sentiasa bertasbih siang dan malam yang tidak pernah lupa berzikir kepada Allah walau sesaat pun. Setiap hari ia hanya makan beberapa suap saja, sekadar ia dapat hidup; kerana itu badannya sangat kurus. Tetapi dalam badan yang kurus itu terdapat kekuatan rohani yang mengagumkan yang menyebabkan ia dapat melaksanakan solat yang ia tekankan atas dirinya.

Ia hidup membujang; meskipun khalifah Muawiyah Ibnu Sufyan telah menawarkan padanya untuk melamar wanita yang ia senangi; dan mas kahwinnya akan diambilkan dari Baitul Mal, tapi Amir Ibnu Abdullah hanya ingin mengabdikan dirinya kepada Allah, ia bertekad tidak akan ada sesuatu yang dapat melalaikannya dari beribadah kepada Allah.

Ia adalah seorang tabi’in yang mencapai puncak zuhud. Ia berkata: “Kenikmatan dunia itu ada empat, harta, wanita, tidur dan makanan. Adapun harta dan makan, aku tidak dapat meninggalkannya. Tetapi demi Allah, dengan tidur dan makan aku memeras tenagaku.”

Keperluannya pada tidur dan makan menyerupai keperluannya pada solat malam dan puasa di siang harinya. Setiap syaitan berusaha mendekati tempat sujudnya, maka ia mencium bau syaitan yang busuk; dan jika ia mendapatkan bau syaitan, maka ia menyingkirkan dengan tangan dan berkata: “Andaikan bukan kerana bau busukmu, nescaya aku sujud di atasmu.”

Pada suatu ketika syaitan datang padanya dengan menjelma menjadi ular, ketika ia menyingkirkannya dengan tangan, syaitan berkata: “Apakah kamu tidak takut digigit ular?” Jawabnya: “Sungguh aku malu kepada Allah jika aku takut kepada selain Dia.”

Amir terus meneruskan solat sepanjang siang dan malam, hingga betis dan telapak kakinya bengkak. Ia selalu berkata: “Wahai jiwa yang selalu mengajak kepada kejahatan, sesungguhnya kamu diciptakan untuk beribadah. Demi Allah, aku akan memaksamu melakukan ibadah tanpa ada kesempatan untuk tidur. Setiap hari ia pergi ke suatu bukit untuk menjauhkan diri dari keramaian orang, dan mengisinya dengan beribadah di sana.

Pada suatu hari, ia keluar rumah dan terus berjalan hingga sampai di lembah “Buas,” dinamakan lembah buas kerana di situ banyak terdapat binatang buas. Tiada seorang pun yang berani memasuki lembah itu kecuali orang-orang sufi yang berhati tulus, yang hati dan jiwa mereka hanya takut kepada Allah, mereka tidak takut pada apa pun kecuali Allah; meskipun binatang buas atau ular berbisa.

Ketika Amir menuruni lembah itu, ia dapatkan di lembah itu ada ahli sufi lain seperti dirinya, ia bernama “Humamah” solat di suatu sudut. Keduanya berada di lembah selama empat puluh hari tanpa saling berbicara, kerana masing-masing sedang tekun beribadah dan solat.

Suatu ketika Amir Ibnu Abdullah ingin mengenal orang yang tinggal di lembah itu dan giat dalam beribadah, maka ia datang pada orang itu dan bertanya: “Siapakah kamu, hai hamba Allah?” Orang itu berkata: “Tinggalkan aku.” Kata Amir, “Aku bersumpah tidak akan meninggalkan kamu sebelum aku tahu dirimu.” Kata orang itu, “Aku Humamah Al-Habsyi.”

Kata Amir, “Jika kamu Humamah Al-Habsyi seperti yang pernah aku dengar, kamu pasti orang yang paling banyak beribadah di dunia ini. Beritahukan padaku perkara yang paling utama.” Kata Humamah. “.. Andaikan bukan kerana beberapa ketentuan solat yang mengharuskan berdiri dan sujud, nescaya aku lebih senang menghabiskan umurku untuk terus rukuk dan membiarkan wajahku bersujud kepada Allah hingga aku bertemu dengan-Nya. Akan tetapi solat-solat fardhu tidak membolehkan aku melakukan itu. Dan siapakah kamu?” Jawab Amir. “Aku Amir Ibnu Abdu Qais.”

Kata Humamah, “Jika kamu Amir seperti yang pernah aku dengar, pasti kamu seorang yang paling banyak beribadah. Maka beritahukan padaku perkara yang paling utama.” Kata Amir. “Sungguh rasa takutku kepada Allah membuat aku tidak takut kepada apa pun kecuali pada-Nya.”

Di saat Amir dan Humamah sedang berbicara tentang ibadah dan taat kepada Allah, tiba-tiba datang seekor binatang buas di belakang Amir dan meloncat ke atasnya, maka Amir menyapu binatang itu dengan tenang sambil membaca ayat Al-Quran, “Dzaalika yaumu majmuu’ul lahunnasu wa dzaalika yaumun masyhud.” “Hari kiamat itu adalah hari yang mana manusia dikumpulkan untuk (menghadap)Nya, dan hari itu adalah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).”

Tiba-tiba binatang buas itu duduk mengibaskan ekornya seperti kucing yang jinak. Ketika Humamah menyaksikan hal itu, ia bertanya pada Amir: “Demi Allah, wahai Amir, bagaimana kamu boleh berbuat demikian?” Jawab Amir: “Bukankah sudah kukatakan padamu, sungguh aku malu kepada Allah jika aku takut selain Dia.”

Ia adalah seorang ahli zuhud, bujangan yang mempunyai rumah. Ia mempunyai saudara perempuan wanita yang bernama Ubadah yang setiap hari membuatkannya roti dan mengirimkan roti itu kepadanya. Tapi setiap ia menerima kiriman roti, ia segera keluar mengundang anak-anak yatim untuk makan roti tersebut. Ia berkata pada saudara sepupunya: “Wahai Ubadah, sabarlah atas apa yang menimpamu di dunia ini dengan membaca Al-Quran, kerana barangsiapa yang tidak senang membaca Al-Quran, maka ia akan meninggalkan dunia dalam keadaan menyesal.”

Pada hari-hari tertentu, Amir Ibnu Abdu Qais mengadakan majlis di masjid. Di antara kata yang pernah disampaikan kepada majlisnya; Aku pernah bertemu dengan beberapa sahabat Rasulullah dan bergaul dengan mereka; mereka memberitahu aku, bahawasanya pada hari kiamat, orang yang paling suci dari dosa ialah orang yang paling memperhitungkan dirinya dalam setiap langkahnya; orang yang paling senang di dunia, akan menjadi orang yang paling sedih di hari kiamat; dan orang yang paling banyak tertawa di dunia, ia akan menjadi orang yang paling banyak menangis di hari kiamat.”

Walaupun Amir seorang yang zuhud, ia tidak membiarkan seseorang yang berbuat zalim, meskipun orang yang dizalimi itu bukan orang Islam. Pada suatu hari, ia menyaksikan orang kafir dzimmi ditarik oleh beberapa orang yang menjadi kaki tangan penguasa Basrah. Orang dzimmi itu minta tolong padanya, maka ia melepaskannya dari seksaan mereka dan berkata kepada mereka. “Jangan menyeksa seorang dzimmi yang telah dijamin oleh Rasulullah SAW selagi aku masih hidup.” Setelah gabenor Basrah mengetahui apa yang diperbuat oleh Amir, maka ia memerintahkan supaya Amir dibuang ke Syam, agar Amir tidak akan kembali padanya atau melakukan sesuatu yang bukan haknya.

Tatkala Amir akan berangkat ke Syam, ia mengumpulkan kawannya untuk mengantarkan ke perbatasan kota, ia berkata pada mereka: “Aku hendak berdoa kepada Allah, maka ucapkanlah ‘amin’.” Kawan-kawannya mengira akan berdoa kerana pembuangannya. Mereka berkata: “Sebenarnya kami telah menginginkan kamu berdoa.” Maka ia mengangkat kedua tangan dan berdoa: “Ya Allah, siapa yang memfitnah aku, mendustakan aku, mengeluarkan aku dari kota ini dan memisahkan aku dari kawan-kawanku; Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, sihatkanlah badannya dan panjangkanlah umurnya.”

Demikian itulah sifat Amir Ibnu Qais, ia mendoakan orang-orang yang telah berbuat zalim padanya dan mengusirnya dari Basrah tempat ia tinggal bersama keluarganya dan tempat berguru kepada Abu Musa Al-Asyari agar mereka diberi harta dan anak yang banyak, disihatkan badannya dan dipanjangkan umurnya.

Amir meninggal dunia dalam keadaan tidak memiliki apa-apa sebagaimana ia lahir di dunia dengan tangan kosong. Ia hanya membawa bekal amal soleh yang menghantarkan ia sampai mencapai tingkat orang-orang soleh yang berbakti kepada Allah.
Selengkapnya...

Catatan Sejarah Rasulullah saw.

MICHAEL H. Hart dalam bukunya The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History yang diterjemahkan oleh H. Mahbub Djunaidi menjadi Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, memberi alasan mengapa Nabi Muhammad saw. ditempatkan dalam urutan pertama daftar buku seratus tokoh paling berpengaruh yang ditulisnya. Menurut penilaiannya Nabi Muhammad saw. satu-satunya orang dalam sejarah peradaban manusia telah berhasil meraih sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi. Nabi Muhammad saw. telah berhasil meyakinkan masyarakat kafir Quraisy agar mau menanggalkan kebiasaan menyembah berhala menuju sikap ketauhidan yang hakiki yakni meng-Esa-kan Tuhan.

Nabi Muhammad saw. juga dinilai telah berhasil mengemban amanat sebagai nabi dan rasul Allah, meyakinkan umat sampai akhir zaman bahwa agama Islam adalah agama untuk seluruh manusia (Al-A’raf 156) serta rahmatan lil ‘alamin/rahmat bagi seluruh alam (A-Anbiya 107). Kini tiga belas abad setelah wafatnya, agama Islam dengan kitab suci Alquran serta sepak terjang beliau sebagai sunahnya telah menjadi keyakinan, pedoman dan pegangan hidup sebagian besar umat di dunia.
Penghargaan dan penghormatan seorang H. Hart terhadap keberadaan Nabi Muhammad saw. yang dalam literasi Islam diyakini sebagai Rasulullah serta nabi dan rasul terakhir/penutup atau khataman nabiyyin (Al-Ahzab 40, Al-Fath 29) juga merupakan kewajiban seluruh umat Islam dalam berbagai dimensi waktu — masa lalu, masa kini maupun masa mendatang — mengingat Nabi Muhammad saw. diyakini perilaku kehidupannya adalah contoh teladan yang baik/uswatun hasanah (Al-Ahzab 21), berakhlak mulia (Al-Qolam 4) serta bersih dari dosa dan kesalahan (Al-Fath 2).

Menurut Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (1982) seperti juga pendapat H. Hart, Muhammad lahir pada tahun Tahun Gajah (570 Masehi), sedang menurut Dr. Miftah Faridl (1982) kelahiran Muhammad adalah hari Senin 12 Rabi’ul Awwal atau 20 April 571 M. Ia lahir di kota Mekah di rumah kakeknya Abdul Muttalib, letak kota Mekah berada di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan.

Allah SWT telah merencanakan sesuatu untuk Nabi Muhammad saw. jauh sebelum kelahiran beliau, bahkan nabi-nabi sebelumnya telah pernah diangkat janjinya untuk percaya akan datangnya seorang rasul (Ali Imran 81).

Tanda-tanda lain menurut Quraish Shihab (1999) terlihat pula dari bulan lahir, hijrah, dan wafatnya pada bulan Rabiul Awal (musim bunga). Nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah), ibunya Aminah (yang memberi rasa aman), kakeknya Abdul Muthalib bergelar Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu melahirkan bernama Asy-Syifa’ (yang sempurna dan sehat) serta yang menyusukannya adalah Halimah As-Sa’diyah (yang lapang dada dan mujur), semuanya mengisyaratkan keistimewaan serta berkaitan erat dengan kepribadian Nabi Muhammad saw.

Halimah binti Abi-Dhua’ib sendiri adalah seorang wanita dari keluarga Sa’d yang menyusui Muhammad hingga usia dua tahun. Atas kehendak ibunya Aminah, Muhammad tinggal pada keluarga Sa’d di pedalaman Sahara dalam pengasuhan Halimah sampai usia lima tahun. Bagi Halimah sendiri keberadaan Muhammad di lingkungan keluarganya telah memberinya berkah pada kehidupannya. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunya pun bertambah. Allah SWT telah memberkahi semua yang ada padanya.

Muhammad lahir dalam keadaan yatim dari keluarga yang sederhana, peninggalan ayahnya Abdullah sesudah wafat hanyalah lima ekor unta, sekelompok ternak kambing dan seorang budak perempuan yaitu Umm Aiman, yang kemudian menjadi pengasuh Nabi, semuanya menggambarkan bahwa keluarga Muhammad bukan keluarga yang kaya, tapi bukan pula keluarga yang miskin. Allah SWT kemudian memberinya hidup berkecukupan, khususnya menjelang dan saat hidup berumah tangga dengan istrinya, Khadijah a.s. sebagaimana firman-Nya, “Bukankah Dia (Tuhan) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu, dan Dia mendapatimu bimbang, lalu Dia memberi petunjuk kepadamu, dan Dia mendapatimu dalam kedaan kekurangan, lalu memberimu kecukupan” (Q.S. Ad-Dhuha: 6-8).

Kebimbangan dan keraguan beliau digambarkan dalam Alquran manakala ia sendiri tidak pernah menduga akan mendapat tugas mulia dari Allah SWT harus menjalankan tugas sebagai nabi (penyampai berita) pada usia 40 tahun yang disebutkan dalam Surat Al-Ahqaf ayat 15 sebagai usia kesempurnaan, ditandai dengan turunnya wahyu pertama Iqro’ bismi Rabbik.

Selanjutnya dengan petunjuk dan bimbingan Allah SWT melalui wahyu-Nya atas perantaraan Malaikat Jibril, Nabi Muhammad saw. menjalankan tugasnya sesuai perintah Allah SWT yakni menyampaikan ajaran Islam, bukan saja untuk masyarakat dan waktu tertentu, tetapi untuk seluruh manusia di setiap waktu dan tempat, sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah (hai Muhammad), wahai seluruh manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semua.” (Al-A’raf 158).

Kini umat manusia di dunia ini, termasuk kita semua, telah mewarisi dua pusaka yang sangat berharga peninggalan beliau, yakni Alquran dan Al-Hadis, keduanya merupakan cerminan dari akhlak beliau yang patut diteladani oleh seluruh pengikutnya sampai akhir zaman. Jika kita tinggalkan, celakalah kita semua, sedang jika kita amalkan, selamatlah kita semua. Wallahu a’lam bishawab

Nabi Muhammad SAW jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, “Mengapa engkau tidur di sini?” Nabi Muhammmad menjawab, “Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.” Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mengingatkan, “berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya.” Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis rasul SAW. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tersebut.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi SAW, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul SAW selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul SAW ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul SAW sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pernah berkata, “Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Rasul SAW bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, rasul SAW memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta’wil) mimpimu itu? Rasul menjawab “ilmu pengetahuan.”

Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri rasul, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.” “Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.”

Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada rasul. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul . Mereka ingin Rasul menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum rasul memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: “Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin.” Kata Umar, “Tidak, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.” Abu Bakar berkata ke Umar, “Kamu hanya ingin membantah aku saja,” Umar menjawab, “Aku tidak bermaksud membantahmu.” Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal- amal kamu dan kamu tidak menyadarinya” (QS. Al-Hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, “Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.” Umar juga berbicara kepada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat rasul takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan rasul SAW.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, rasul didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata pada rasul, “Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami”

Nabi Muhammad SAW mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bertanya, “Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?” “Sudah.” kata Utbah. Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya membiarkan rasul berbicara.

Ketika rasul tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji rasul bahwa rasul akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya rasul. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang rasul. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui rasul dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab rasul? “Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu.” Sahabat ini menangis keras. Bagi rasul janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun rasul merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi rasul SAW janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.
Selengkapnya...

Hidup Makhluk Tuhan

Hidup adalah Anugrah
Hidup adalah Perjuangan
Hidup adalah Keberuntungan
Hidup adalah Kemakmuran
Hidup adalah Kesengsaraan

Hidup adalah Anugrah dari Yang Maha Esa, untuk dapat di nikmati oleh setiap makhluk untuk itu makhluk harus seharusnya bersyukur kepada Tuhan YME dengan cara beribadah kepadaNya dan Menjauhi segala laranganNya.

Hidup adalah Pejuangan, yang perlu kita lakukan adalah berjuang agar kenikmatan dari Tuhan yang diberikan kepada Makhluk dapat senantiasa bersambung secara terus menerus walau kadangkala perjuangan itu belum dapat tercapai seperti harapan makhluk, namun yang perlu makhluk ingat kegagalan yang di dapat setelah perjuangan bukan akhir dari segalanya namun Tuhan ingin melihat kegigihan makhluk dalam berjuang agar makhluk menjadi Kuat.  

Hidup adalah Keberutungan, kadang kala keberuntungan muncul kepada makhluk yang tidak berusaha, keberuntungan yang didapat oleh makhluk tersebut adalah sebagai ujian/cobaan yang diberikan kepada makhluk dari Tuhan, apabila makhluk sadar bahwa itu ujian kemudian Iman mkhluk tersebut semakin kuat maka makhluk tersebut menjadi makhluk yang benar2 beruntung.
idup adalah Kemakmuran, Kemakmuran itu sendiri didapat dari hasil usaha yang dirintis sejak dini dan melalui proses panjang sehingga di hari tua makhluk tinggal menikmati hasil jerih payah/usahanya dahulu semasa muda.

Hidup adalah Kesengsaraan, Makhluk yang tidak pernah berusaha untuk maju dan malas untuk berusaha, sudah pasti akan mendapatkan Kesengsaraan dalam hidupnya,karena malas adalah salah satu sifat yang tidak disukai oleh Tuhan, Tuhan menyuruh makhluk untuk selalu berjuang agar mendapatkan tujuan yang ingin dicapai oleh makhluk tersebut agar makhluk mendapatkan kemakmuran dalam hidupnya.

kata2 diatas adalah sedikit pendapat dari saya terimakasih atas kunjungan anda ke Blog.Jelek saya ini. saran dan kritik yang membangun sangat saya harapkan terimakasih.

H Selengkapnya...